Rabu pagi minggu ini bukan pagi yang panas, sejuk, beraroma embun tanpa polusi. Nasi Jamblang jadi sarapanku sebelum berangkat ke pusat kota untuk service sepeda. niatku pagi ini jalani amanah dari kakak buat service sepeda. telat, telat, telat. jam setengah delapan aku baru berangkat. kalau tidak berawan, matahari bakal sangar di kulitku.
buat perisai kulit aku pakai jaket. masa bodo dengan gerah, keringetan sekalian. karena tidak buru-buru aku santai saja mengayuh sepeda. Plumbon, Tegalwangi, Plered aku telusuri. suasananya agak beda. masih lenggang, padahal biasanya ramai. atau mungkin masih pagi? jam setengah delapan?.
damai sekali. pemandangan pagi ini didominasi dengan pelajar dari SD sampai SMA. SD yang berangkat dengan ceria, SMP yang masih mematuhi peraturan dengan rok dibawah lutut, dan baju yang dimasukkan, dan SMA dengan baju ketat, celana pensil, sabuk berbagai warna, merokok dan sebagainya. oh satu lagi. mahasiswa dengan jas almamater hijaunya yang mungkin berangkat kepagian. jam delapan?
aku berhenti sejenak di kost-an temen. istirahat, ngobrol, minum. ternyata si Insomnia itu masih tidur, jam delapan? padahal dia ada ujian hari ini. belajar dong, masa tidur? ah namanya juga insomnia. tetapi akhirnya aku bangunkan dia. jadilah aku istirahat di situ.
puas istirahat, aku lanjutkan perjalan. lewat mall di tengah kota : Grage, ternyata masih sepi juga. pintu-pintu kacanya belum terbuka semuanya. lahan parkir masih kosong. belum buka atau kesiangan? jam delapan?.
ketidaklengkapan spare part satu toko membuatku keliling kota mencari dealer sepeda yang menjual ban luar ukuran 700. susah sekali, lebih dari empat toko aku masuki. tapi akhirnya ada juga toko yang menyediakan ban itu sekaligus service. amanah belum selesai, aku harus mengantar sepeda ke Bank Syariah Mandiri yang tidak jauh dari tempat service sepeda tadi.
"punya Dwi?" tanya satpam Bank itu.
"iya".
"taroh di belakang aja de".
aku menurut, sambil ngeloyor ke belakang. ternyata di belakang Bank itu sudah banyak sepeda terpakir berdesakkan. setelah memarkirkan, aku langsung pergi, pulang. naik angkot tentunya.
kalau bukan elf, aku selalu mengaincar tempat duduk paling depan. alasannya : ya bisa ngeliat kedepan, bukan kesamping.
perjalanan pulang jadi kebalikan perjalanan berangkat. tentu saja. jalanan sudah penuh, aspal terlihat panas. asap sudah meriah. tapi aku tidak terlalu memperhatikan perjalanan pulangku. enak saja aku ngobrol lewat facebook.
Tampilkan postingan dengan label by pass-plumbon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label by pass-plumbon. Tampilkan semua postingan
Kamis, 27 Mei 2010
Selasa, 11 Mei 2010
Warning
hari ini sebenarnya saya libur kuliah, cuma saya dan teman-teman sepakat kalau hari ini kami akan belajar bersama, maklum minggu depan sudah Ujian Tengah Semester. setelah aktifitas pagi yang cukup ribet, saya akhirnya berangkat dari rumah sekitar jam sembilan pagi. perjalanan saya dari rumah ke kampus seperti biasa diawali dengan naik elf jurusan terminal Cirebon. tumben kali ini saya satu mobil dengan Rendy, teman SD saya.
di dalam mobil saya dan Rendy ngobrol ngalor-ngidul tidak tentu arahnya. tapi suasana obrolannya kurang didukung dengan mobil yang penuh sesak, pantat saya yang dapat jatah duduk cuma setengahnya. Rendy juga menahan tubuhnya dengan tangannya ditopangkan di gagang pintu mobil. menurut saya aturan mobil itu seharusnya satu kursi satu penumpang. tapi kenapa saya tetap naik mobil yang sudah penuh itu ya?.
mobil terus jalan sampai dihentikan lampu merah di pertigaan Plumbon. mata saya tidak sengaja melihat pengendara motor yang nekad menerobos tanda merah tersebut, memang tidak ada polisi tapi kan tidak ada salahnya untuk berhenti sebentar. dan begitu lampunya hijau elf langsung melesat dengan perkasa.
pelanggaran-pelanggaran para pemakai jalan sebenarnya banyak, sebenarnya saya juga sering melanggar tata tertib lalu lintas. tidak punya SIM saja saya sudah berani jalan-jalan naik motor. selain itu, ada yang parkir di tempat yang ada rambu yang bertuliskan huruf P dipalangmerahkan. atau berhenti di tempat yang tidak boleh berhenti. atau menyeberang di tempat yang tidak ada zebra crossnya.
sesampainya di kampus dan berpisah dengan Rendy. saya langsung bertemu teman-teman yang sudah haus ilmu. pembelajaran berlangsung sampai tengah hari. karena kemarin saya lupa mengembalikan spidol yang saya pinjam dari pihak kampus, saya jadi tidak berani meminjam lagi satu spidol pada pihak kampus. inilah konsekuensinya kalau kita tidak mematuhi peraturan. akhirnya saya dan teman-teman memutuskan untuk membeli sendiri spidolnya.
setelah itu saya sempatkan diri mampir ke kost-an teman. dan lagi-lagi di sana saya dan teman-teman yang lain menghabiskan sisa hari dengan ngobrol sampai sore. tapi tetap tak lupa makan. kalau makan pasti minum, kalau sudah minum terlalu banyak pasti jadi ingin pipis. pergilah saya ke WC kost-an itu. namanya juga WC kost-an, penuh dengan peraturan-peraturan supaya WC itu tetap bersih dan nyaman.
"WARNING, jangan buang sampah di kamar mandi"
"jangan buang pembalut di kamar mandi"
"kalau sudah kotor jangan lupa dibersihkan"
"bla bla bla"
banyak sekali peraturan yang harus dipatuhi. memang kamar mandinya kumuh, licin, dan agak jorok. tapi tidak ada sampah berserakan dan pembalut yang menyumbat kloset.
nah sekarang bagaimana menurutmu, apakah peraturan itu harus dipatuhi?
atau tetap pada pepatah lama Einstein : peraturan dibuat untuk dilanggar?
di dalam mobil saya dan Rendy ngobrol ngalor-ngidul tidak tentu arahnya. tapi suasana obrolannya kurang didukung dengan mobil yang penuh sesak, pantat saya yang dapat jatah duduk cuma setengahnya. Rendy juga menahan tubuhnya dengan tangannya ditopangkan di gagang pintu mobil. menurut saya aturan mobil itu seharusnya satu kursi satu penumpang. tapi kenapa saya tetap naik mobil yang sudah penuh itu ya?.
mobil terus jalan sampai dihentikan lampu merah di pertigaan Plumbon. mata saya tidak sengaja melihat pengendara motor yang nekad menerobos tanda merah tersebut, memang tidak ada polisi tapi kan tidak ada salahnya untuk berhenti sebentar. dan begitu lampunya hijau elf langsung melesat dengan perkasa.
pelanggaran-pelanggaran para pemakai jalan sebenarnya banyak, sebenarnya saya juga sering melanggar tata tertib lalu lintas. tidak punya SIM saja saya sudah berani jalan-jalan naik motor. selain itu, ada yang parkir di tempat yang ada rambu yang bertuliskan huruf P dipalangmerahkan. atau berhenti di tempat yang tidak boleh berhenti. atau menyeberang di tempat yang tidak ada zebra crossnya.
sesampainya di kampus dan berpisah dengan Rendy. saya langsung bertemu teman-teman yang sudah haus ilmu. pembelajaran berlangsung sampai tengah hari. karena kemarin saya lupa mengembalikan spidol yang saya pinjam dari pihak kampus, saya jadi tidak berani meminjam lagi satu spidol pada pihak kampus. inilah konsekuensinya kalau kita tidak mematuhi peraturan. akhirnya saya dan teman-teman memutuskan untuk membeli sendiri spidolnya.
setelah itu saya sempatkan diri mampir ke kost-an teman. dan lagi-lagi di sana saya dan teman-teman yang lain menghabiskan sisa hari dengan ngobrol sampai sore. tapi tetap tak lupa makan. kalau makan pasti minum, kalau sudah minum terlalu banyak pasti jadi ingin pipis. pergilah saya ke WC kost-an itu. namanya juga WC kost-an, penuh dengan peraturan-peraturan supaya WC itu tetap bersih dan nyaman.
"WARNING, jangan buang sampah di kamar mandi"
"jangan buang pembalut di kamar mandi"
"kalau sudah kotor jangan lupa dibersihkan"
"bla bla bla"
banyak sekali peraturan yang harus dipatuhi. memang kamar mandinya kumuh, licin, dan agak jorok. tapi tidak ada sampah berserakan dan pembalut yang menyumbat kloset.
nah sekarang bagaimana menurutmu, apakah peraturan itu harus dipatuhi?
atau tetap pada pepatah lama Einstein : peraturan dibuat untuk dilanggar?
Selasa, 04 Mei 2010
Perjalanan Baru Telah Dimulai
kuliah usai, aku langsung pulang. sudah beberapa hari aku pulang larut terus. jadi kali ini aku putuskan untuk pulang lebih awal. ya padahal itu terhitung sore, jam setengah tiga tepatnya. seperti biasa aku selalu naik elf jika pulang dari kampus, begitu pun kalau berangkat ngampus. suasana elf itu seperti serial TV. setiap hari pasti berbeda. kadang membuat terharu, kadang membuat tertawa. tapi kali ini beda. aku juga baru melihat pemandangan seperti ini di angkot.
saat itu aku duduk dekat pintu masuk di elf, anginnya sepoi-sepoi, ditambah silaunya pantulan cahaya matahari dari aspal tempat mobil melaju, tapi tidak panas karena memang aku di dalam mobil. jika aku duduk di mobil elf, aku kurang memperhatikan orang-orang disampingku. tetapi tidak demikian dengan orang yang duduk di depanku. saat itu ada pasangan pengantin baru. sekali pandang juga aku langsung tahu kalau pasangan itu pengantin baru. muda, dan sudah punya anak.
ya, anaknya masih bayi. bayi itu tidur pulas di dekapan ibunya. pulas sekali. wajahnya masih merah. mungkin baru berumur satu bulan lebih. mungkin kelihatannya kedua orang tua itu tega sekali mengajak jalan-jalan si bayi padahal masih sangat rentan keadaannya. tapi ibunya melindunginya dari udara yang ganas bagi kulit si bayi.
lain halnya dengan si angkot, ia ganas menerobos jalan, guncangan demi guncangan ia beri kepada penumpang termasuk si bayi itu. untungnya bayi itu tetap pulas tidurnya. menurutku kasihan juga si bayi. di awal perjalanan hidupnya sudah merasakan guncangan-guncangan hebat dalam tidurnya, tapi semoga saja ia kuat menahan guncangan-guncangan hidupnya mendatang seperti kuatnya si bayi menahan guncangan-guncangan mobil elf.
karena belum sampai rumah aku terus melamun tentang si bayi.
"andai dia tahu pahit manisnya kehidupan sebelum ia lahir, apakah ia akan tetap mau dilahirkan?"
"akan jadi apa si bayi kalau sudah besar?"
"apakah aku akan bertemu lagi dengan si bayi lalu menyapanya?"
nah para pembaca, aku sekedar menginformasikan bahwa satu lagi individu di bumi ini yang telah lahir. satu lagi perjalanan kecil yang tlah dimulai, yang mungkin akan berdampak dengan perjalanan-perjalanan kita. ^^
saat itu aku duduk dekat pintu masuk di elf, anginnya sepoi-sepoi, ditambah silaunya pantulan cahaya matahari dari aspal tempat mobil melaju, tapi tidak panas karena memang aku di dalam mobil. jika aku duduk di mobil elf, aku kurang memperhatikan orang-orang disampingku. tetapi tidak demikian dengan orang yang duduk di depanku. saat itu ada pasangan pengantin baru. sekali pandang juga aku langsung tahu kalau pasangan itu pengantin baru. muda, dan sudah punya anak.
ya, anaknya masih bayi. bayi itu tidur pulas di dekapan ibunya. pulas sekali. wajahnya masih merah. mungkin baru berumur satu bulan lebih. mungkin kelihatannya kedua orang tua itu tega sekali mengajak jalan-jalan si bayi padahal masih sangat rentan keadaannya. tapi ibunya melindunginya dari udara yang ganas bagi kulit si bayi.
lain halnya dengan si angkot, ia ganas menerobos jalan, guncangan demi guncangan ia beri kepada penumpang termasuk si bayi itu. untungnya bayi itu tetap pulas tidurnya. menurutku kasihan juga si bayi. di awal perjalanan hidupnya sudah merasakan guncangan-guncangan hebat dalam tidurnya, tapi semoga saja ia kuat menahan guncangan-guncangan hidupnya mendatang seperti kuatnya si bayi menahan guncangan-guncangan mobil elf.
karena belum sampai rumah aku terus melamun tentang si bayi.
"andai dia tahu pahit manisnya kehidupan sebelum ia lahir, apakah ia akan tetap mau dilahirkan?"
"akan jadi apa si bayi kalau sudah besar?"
"apakah aku akan bertemu lagi dengan si bayi lalu menyapanya?"
nah para pembaca, aku sekedar menginformasikan bahwa satu lagi individu di bumi ini yang telah lahir. satu lagi perjalanan kecil yang tlah dimulai, yang mungkin akan berdampak dengan perjalanan-perjalanan kita. ^^
Langganan:
Postingan (Atom)