sebenarnya alam itu sudah lengkap, cuma seiring kebutuhan hidup yang kian hari kian meningkat terpaksa manusia membuat alternatif lain untuk memuaskan kebutuhannya. kemarin, saya beserta teman-teman sekelas pergi ke obyek wisata alam di Palutungan (kuningan). saat itu kami butuh penyegaran pikiran, dan hati. setelah beberapa bulan otak kami dijejali bahasa pemrograman yang tidak jelas, algoritma yang membuat otak kami berpilin, struktur data yang memaksa kami mengatur variabel secara teratur, dan kalkulus yang berhasil seratus persen memenuhi setengah isi otak dengan rumus-rumus yang dipaksakan masuk bak kondektur memasukkan penumpang ke angkot yang sudah jelas penuh dengan penumpang.
terbukti, wisata alam di situ menyediakan penyegaran dan pemulihan keterpurukan otak dengan cepat. resepnya kurang lebih seperti ini: pohon pinus yang berbaris rapat, tapi tidak rapih, rumput liar yang berembun, udara dingin setara AC 16 derajat di kelas, tanah longsor yang membuat kami memutar jalan menuju air terjun dan melihat bukit dari tempat yang lebih tinggi, air sungai super dingin yang bisa membuat pilek berbulan-bulan, air terjun yang jatuh tidak beraturan, kalau kita berdiri di bawahnya serasa pijat refleksi seharga enam puluh ribu rupiah, cuaca cerah seperti tanda setujuNya Illahi untuk kita berwisata, dan canda tawa yang tidak pernah kehabisan stock. resep yang manjur menurut saya.
akibatnya: kami jadi lupa waktu, tak apa lah. urat-urat senyum jadi lebih longgar. setelah mencicipi dinginnya air terjun, saya penasaran kira-kira ada apa ya di atas air terjun itu. tanpa berpikir akan tersesat, saya coba cari jalan menuju ke atas. dan ketemu.
lagi-lagi saya disuguhi pemandangan unik. pemandangan yang tidak pernah saya temui di sudut-sudut desa saya, tidak pernah ada di gang-gang penyeka rumah di sana. sekumpulan serangga terbang warna-warni terbang kesana kemari, ada capung, kupu-kupu dan sebagainya. tampaknya serangga itu bukan serangga kota yang mayoritas warnanya coklat. sayangnya saya tidak membawa kamera. jadi cuma saya abadikan dalam benak saja.
dua puluh empat jam rupanya belum cukup panjang bagi saya. karena cuma batas waktu dua belas jam saja saya bisa beraktifitas. hari itu semua kesenangan selesai sekitar jam empat sore, sisanya saya asumsikan untuk istirahat. kalau otak ingin senang resikonya badan jadi pegal, jadi tidak ada salahnya kalau istirahat.
Jumat, 07 Mei 2010
Rabu, 05 Mei 2010
Kunang-Kunang
aku pernah lihat kunang-kunang
patroli di tempat remang
aku pernah lihat kunang-kunang
waktu lampu masih belum terang
aku pernah lihat kunang-kunang
sejahtera, pesta pora, bercengkrama di pinggir sawah
sekarang aku lihat kunang-kunang
diPHK karena bumi sudah terang
patroli di tempat remang
aku pernah lihat kunang-kunang
waktu lampu masih belum terang
aku pernah lihat kunang-kunang
sejahtera, pesta pora, bercengkrama di pinggir sawah
sekarang aku lihat kunang-kunang
diPHK karena bumi sudah terang
Selasa, 04 Mei 2010
Perjalanan Baru Telah Dimulai
kuliah usai, aku langsung pulang. sudah beberapa hari aku pulang larut terus. jadi kali ini aku putuskan untuk pulang lebih awal. ya padahal itu terhitung sore, jam setengah tiga tepatnya. seperti biasa aku selalu naik elf jika pulang dari kampus, begitu pun kalau berangkat ngampus. suasana elf itu seperti serial TV. setiap hari pasti berbeda. kadang membuat terharu, kadang membuat tertawa. tapi kali ini beda. aku juga baru melihat pemandangan seperti ini di angkot.
saat itu aku duduk dekat pintu masuk di elf, anginnya sepoi-sepoi, ditambah silaunya pantulan cahaya matahari dari aspal tempat mobil melaju, tapi tidak panas karena memang aku di dalam mobil. jika aku duduk di mobil elf, aku kurang memperhatikan orang-orang disampingku. tetapi tidak demikian dengan orang yang duduk di depanku. saat itu ada pasangan pengantin baru. sekali pandang juga aku langsung tahu kalau pasangan itu pengantin baru. muda, dan sudah punya anak.
ya, anaknya masih bayi. bayi itu tidur pulas di dekapan ibunya. pulas sekali. wajahnya masih merah. mungkin baru berumur satu bulan lebih. mungkin kelihatannya kedua orang tua itu tega sekali mengajak jalan-jalan si bayi padahal masih sangat rentan keadaannya. tapi ibunya melindunginya dari udara yang ganas bagi kulit si bayi.
lain halnya dengan si angkot, ia ganas menerobos jalan, guncangan demi guncangan ia beri kepada penumpang termasuk si bayi itu. untungnya bayi itu tetap pulas tidurnya. menurutku kasihan juga si bayi. di awal perjalanan hidupnya sudah merasakan guncangan-guncangan hebat dalam tidurnya, tapi semoga saja ia kuat menahan guncangan-guncangan hidupnya mendatang seperti kuatnya si bayi menahan guncangan-guncangan mobil elf.
karena belum sampai rumah aku terus melamun tentang si bayi.
"andai dia tahu pahit manisnya kehidupan sebelum ia lahir, apakah ia akan tetap mau dilahirkan?"
"akan jadi apa si bayi kalau sudah besar?"
"apakah aku akan bertemu lagi dengan si bayi lalu menyapanya?"
nah para pembaca, aku sekedar menginformasikan bahwa satu lagi individu di bumi ini yang telah lahir. satu lagi perjalanan kecil yang tlah dimulai, yang mungkin akan berdampak dengan perjalanan-perjalanan kita. ^^
saat itu aku duduk dekat pintu masuk di elf, anginnya sepoi-sepoi, ditambah silaunya pantulan cahaya matahari dari aspal tempat mobil melaju, tapi tidak panas karena memang aku di dalam mobil. jika aku duduk di mobil elf, aku kurang memperhatikan orang-orang disampingku. tetapi tidak demikian dengan orang yang duduk di depanku. saat itu ada pasangan pengantin baru. sekali pandang juga aku langsung tahu kalau pasangan itu pengantin baru. muda, dan sudah punya anak.
ya, anaknya masih bayi. bayi itu tidur pulas di dekapan ibunya. pulas sekali. wajahnya masih merah. mungkin baru berumur satu bulan lebih. mungkin kelihatannya kedua orang tua itu tega sekali mengajak jalan-jalan si bayi padahal masih sangat rentan keadaannya. tapi ibunya melindunginya dari udara yang ganas bagi kulit si bayi.
lain halnya dengan si angkot, ia ganas menerobos jalan, guncangan demi guncangan ia beri kepada penumpang termasuk si bayi itu. untungnya bayi itu tetap pulas tidurnya. menurutku kasihan juga si bayi. di awal perjalanan hidupnya sudah merasakan guncangan-guncangan hebat dalam tidurnya, tapi semoga saja ia kuat menahan guncangan-guncangan hidupnya mendatang seperti kuatnya si bayi menahan guncangan-guncangan mobil elf.
karena belum sampai rumah aku terus melamun tentang si bayi.
"andai dia tahu pahit manisnya kehidupan sebelum ia lahir, apakah ia akan tetap mau dilahirkan?"
"akan jadi apa si bayi kalau sudah besar?"
"apakah aku akan bertemu lagi dengan si bayi lalu menyapanya?"
nah para pembaca, aku sekedar menginformasikan bahwa satu lagi individu di bumi ini yang telah lahir. satu lagi perjalanan kecil yang tlah dimulai, yang mungkin akan berdampak dengan perjalanan-perjalanan kita. ^^
Langganan:
Postingan (Atom)